(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (2023)

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (1)

Perencanaan sistem penyediaan air minum

Standar Nasional Indonesia

SNI 7831:2012

badan standardisasi nasional ICS 91.140.60; 91020

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (2)

© BSN 2012 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengiklankan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dalam bentuk apapun dan dilarang mengedarkan dokumen ini dalam bentuk elektronik maupun cetak tanpa izin tertulis dari BSN BSN Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10. tel. +6221-5747043 Faks. +6221-5747045 Email:[email dilindungi]www.bsn.go.id Diterbitkan di Jakarta

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (3)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 i

Daftar isi

Daftar isi ............................................... ........................ . ............................................................... ................ .. .................... I

Prakata .............................................................. ............... ……………………………………………………………………………………… .. ..............................................ii

Perkenalan................................................. .. ................................................. ................ .. .................... iii

1 Lingkup ............................................... ............. .. .................................. .............................. . ......... 1

2 Acuan normatif ............................................... .... .. ...... .............................................. ....... ....... 1

3 Istilah dan definisi ............................................... ..... ... .... ............. ......................... ......... ...... .. ..1

4 Persyaratan umum dan teknis .............................................. .. . ... ............................................... ...... 3

4.1 Persyaratan umum ............................................... . ............................................................... . ... 3

4.2 Persyaratan teknis .............................................. ... ...... . ............... ............ . ... ...... ............. .... ..... 3

Lampiran A Contoh Gambar Kerja IPA ............................................... . . . . ................................. 33

Bibliografi ............................................................... .. ................................................. .. ....................... 38

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (4)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 ii

Kata pengantar

Norma ini merupakan norma baru yang dielaborasi sebagai acuan dalam perencanaan sistem penyediaan air minum mulai dari perencanaan unit air baku, unit produksi, unit transmisi, unit distribusi dan unit pelayanan agar kualitas konstruksi terjaga. tingkat tinggi. kualitas nyata.

Standar ini telah disusun oleh Badan Pengembangan Air Minum, Administrasi Umum Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, bersama Subkomite 91-01-S3 Teknis Perumahan, Permukiman dan Prasarana Komite Teknis 91-01 Bahan Bangunan dan Teknik Sipil dan dibahas pada rapat konsensus pada tanggal 10-11 November 2009, yang melibatkan para profesional, pakar dan lembaga terkait.

Standar ini mengacu pada standar nasional serta pengalaman yang banyak digunakan di masyarakat, baik dalam hal perencanaan maupun sistem dan metode pembangunan yang digunakan. Standar ini disusun berdasarkan National Normative Directives 08.2007.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (5)

7831:2012SNI

© BSN 2012 iii

Perkenalan

Standar perencanaan sistem penyediaan air minum ini memuat kriteria perencanaan sistem penyediaan air minum, mulai dari perencanaan unit air baku, unit transmisi, unit pembangkit, unit distribusi dan unit pelayanan. Standar ini menjadi acuan bagi perencana, produsen, kontraktor dan manajer.

Standar yang berkaitan dengan perencanaan sistem penyediaan air minum sudah ada, namun masih terkotak-kotak, bahkan ada yang disusun, tetapi belum dibakukan, sehingga perlu penyatuan standar tersebut menjadi standar nasional yang komprehensif.

Standar ini dikembangkan untuk memenuhi amanat Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, khususnya Bagian II Wewenang dan Tanggung Jawab Pemerintah, Pasal 38 ayat b) Menetapkan norma, standar, pedoman dan pedoman.

Muatan teknis yang terkandung dalam standar ini diambil dari berbagai sumber berupa buku teks, modul, standar Indonesia dan standar dari negara lain.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (6)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 1 de 38

Perencanaan sistem penyediaan air minum

1 Lingkup

Standar ini memuat kriteria perencanaan sistem penyediaan air minum berdasarkan perencanaan unit air baku, unit transmisi, unit produksi, unit distribusi dan unit pelayanan.

2 Referensi normatif

SNI 19-0140-1987, Metode pengukuran debit air

SNI 06-0135-1987, Penyambungan pipa PVC untuk saluran air minum

SNI 03-2847-1992, Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung

SNI 03-6382-2000, Spesifikasi hidran tabung basah

SNI 03-6419-2000, Spesifikasi pipa tekanan PVC diameter (110-315) mm untuk air bersih

SNI 03-0084-2002, Pipa PVC untuk saluran air minum

SNI 03-1729-2002, Tata cara perencanaan struktur logam untuk bangunan gedung

SNI 06-4829-2005, Spesifikasi pipa polyethylene (PE) dan sambungannya untuk air minum

SNI 2547:2008, Spesifikasi meteran air minum

SNI 6773:2008, Spesifikasi Paket Instalasi Pengolahan Air

SNI 6774:2008, Tata cara perencanaan paket kesatuan sarana pengolahan air

SNI 7509:2008, Tata Cara Perencanaan Teknis Unit Pelayanan Jaringan Distribusi dan Sistem Penyediaan Air Minum

SNI 7511:2008, Tata cara pemasangan pipa transmisi dan pipa distribusi serta konstruksi saluran pipa

SNI 3981:2008, Perencanaan pemasangan saringan pasir lambat

3 Istilah dan definisi

3.1 volume air yang dibuang per satuan waktu

3.2 jaringan distribusi Rangkaian sistem perpipaan untuk mendistribusikan air minum dari tangki distribusi ke konsumen.

3.3 jaringan pipa pengangkutan air baku untuk memasok air dari sumber air ke unit produksi

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (7)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 2 de 38

3.4 perpipaan untuk mengangkut air minum segmen jaringan perpipaan yang mengalirkan air minum dari unit produksi/gedung pengumpul air ke reservoir atau batas distribusi.

3.5 bukaan pemeriksaan (manhole) bukaan pada bak mandi atau saluran air sebagai jalan masuk bagi orang

3.6 Segitiga (Thompson) luapan/sill/penghalang/penghalang berbentuk segitiga bertepi, dibuat melintang (tegak lurus) terhadap arah aliran di saluran/kanal

3.7 Square overflow/sill/weir (cipoletti) lintel/trapesium barrier sill/divider berupa trapeze yang dikalibrasi, dilakukan secara melintang (tegak lurus) terhadap arah aliran di saluran/saluran.

3.8 pemipaan layanan, pemipaan yang menghubungkan jaringan distribusi utilitas ke sambungan perumahan

3.9 Jaringan pipa transmisi Ruas pipa untuk memasok air dari sumber air ke unit pengolahan dan akuifer dari unit pengolahan ke reservoir atau batas distribusi

3.10 Sistem penyediaan air minum Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAM adalah sistem infrastruktur dan instalasi air minum yang terintegrasi secara fisik (teknis) dan non fisik.

3.11 unit sarana dan prasarana air baku untuk pengambilan dan/atau penyediaan air baku, meliputi bangunan penyimpanan air, bangunan pengambilan/penyaluran, alat ukur dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan dan/atau bangunan untuk instalasi portabel dan perlengkapannya

3.12 unit distribusi, sarana untuk mengalirkan air minum dari ujung pipa pengangkut air minum ke unit pelayanan.

3.13 unit pelayanan sarana yang dimaksudkan untuk memberikan pelayanan air minum langsung kepada masyarakat, terdiri dari sambungan rumah tangga, hidran umum, keran umum, terminal air dan hidran

3.14 unit produksi, sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengubah air baku menjadi air minum melalui proses fisika dan kimia, termasuk bangunan dan peralatan pengolahan,

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (8)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 3 de 38

alat operasi, alat ukur dan alat pemantauan, serta bangunan penyimpanan air minum, termasuk pengolahan lumpur

4 Persyaratan umum dan teknis

4.1 Persyaratan umum

Perencanaan sistem penyediaan air minum (SPAM) harus dilakukan oleh teknisi yang berwenang yang telah memiliki pengalaman di bidang air minum, dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Umum kota.

4.2 Persyaratan teknis

4.2.1 Kriteria perencanaan unit air baku

Persyaratan desain teknis bangunan resapan air baku harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Itu. Sumber air baku Sumber air yang digunakan sebagai sumber air baku adalah mata air, air tanah, air permukaan dan air hujan.

b) Dasar-dasar perencanaan pembangunan abstraksi air baku Dasar-dasar perencanaan pembangunan abstraksi air baku harus memuat hasil kajian dan kriteria yang meliputi: 1) Penelitian dan identifikasi sumber abstraksi air baku;

- jenis sumber air baku; - penilaian kapasitas air baku; - kepemilikan sumber air baku - kualitas, kuantitas dan kontinuitas; - peran saat ini; - penelitian hidrologi, morfologi, hidrogeologi

2) Analisis topografi (kemiringan, perbedaan level) 3) Perhitungan aliran sumber air baku 4) Rencana induk pelaksanaan pekerjaan di sungai, 5) Kondisi penggunaan air, 6) Dampak lingkungan 7) Peralatan konstruksi;

a) bukaan kontrol (sumur), b) saluran drainase, c) pagar pengaman sekeliling

4.2.1.1 Perhitungan aliran sumber air baku

Itu. alat pengukur

Pengukuran debit air dapat dipilih berdasarkan beberapa alternatif pengukuran di bawah ini.

1) Pengukuran dengan menggunakan sekat ukur, luapan atau ambang batas yang terdiri dari: a) sekat/ambang ukur berbentuk persegi panjang; b) pengukuran partisi/ambang persegi panjang; c) partisi/ambang pengukuran lebar penuh; d) persegi panjang dari partisi/ambang pengukuran; Pengukuran/ambang batas trapesium.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (9)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 4 de 38

2) Pengukuran menggunakan pelat dengan bukaan dan nozel terdiri dari: a) bukaan; b) corong; c) Tabung venturi dari jenis nozel; d) Tabung venturi berbentuk kerucut/kerucut (conical venturi tube).

3) Pengukuran dengan menggunakan tangki ukur 4) Pengukuran dengan menggunakan alat ukur aliran:

a) Pengukur aliran elektromagnetik; b) Pengukur aliran ultrasonik; c) Pengukur aliran turbin; d) Alat pengukur tipe terapung; e) Meter air, meter besar (utama) atau meter domestik kecil).

B. Penggunaan alat ukur

1) Pengukur, pelat orifice, nosel, dan pengukur digunakan untuk mengukur aliran air laminar/konstan;

2) Tangki ukur untuk mengukur debit air laminar atau turbulen.

w. Pengukuran

1) Pengukuran menggunakan layar ukur/threshold Konstruksi layar pengukuran terdiri dari: a) Sill plate; b) Pelat pendukung; c) Saluran.

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing struktur partisi:

a) Sill plate dan base plate

Kusen dan pelat penahan harus memenuhi persyaratan berikut: (1) Permukaan bagian dalam dan tepi atas pelat seperti yang terlihat pada Bagian

penampang papan harus miring pada 900 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, sudut pemotongan harus tajam. Lebar permukaan atas adalah 2 mm, dan sudut antara permukaan depan atas dan bidang miring dinding luar harus 45°.

Gambar 1 - Penampang ambang

(2) Permukaan bagian dalam pelat pondasi harus rata, dan terutama permukaan pelat yang berjarak 100 mm dari tepi pelat atas harus rata dan halus. Hal ini untuk menghindari arus turbulen selama pengukuran. Pelat pembatas dipasang pada braket, dengan tinggi terpasang minimum 100 mm, lihat Gambar 2.

+2 mm

+45o

permukaan yang dalam

arah aliran

permukaan luar

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (10)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 5 de 38

Gambar 2 - Sisi dalam ambang jendela

(3) Ambang harus terbuat dari baja tahan karat (4) Pelat penyangga harus terbuat dari bahan padat yang dapat berupa baja atau

beton untuk menghindari perubahan (deformasi) pelat yang disebabkan oleh tekanan. Selain itu, konstruksi dan dimensinya harus sedemikian rupa sehingga tidak menghalangi muka air dari bendung pada ketinggian: (a) 30 mm atau lebih untuk bendung segitiga; (b) 70 mm atau lebih untuk bendungan dengan lebar penuh (diukur dari dasar bendungan segitiga).

(5) Permukaan bagian dalam ambang dan pelat penyangga harus tegak lurus terhadap sumbu saluran.

(6) Takik pada ambang segitiga siku-siku harus memenuhi persyaratan; (a) Sudut takikan pada ambang segitiga harus 90° seperti yang ditunjukkan pada gambar.

gambar 3, dan kedua sudut takik harus saling tegak lurus di tengah saluran;

(b) Toleransi sudut takikan adalah 50.

Gambar 3 - Sudut pemotongan ambang segitiga siku-siku

(7) Potongan kusen persegi panjang harus memenuhi persyaratan; (a) Potongan kusen persegi panjang harus sedemikian rupa sehingga kedua sisi potongan

tegak lurus dengan tepi bawah (bawah) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4; (b) Toleransi sudut takikan adalah 50°; (c) Takik harus dipusatkan pada lebar tabung dan ujung bawahnya harus

horisontal; (d) Lebar takik adalah tinggi tepi bawah takik; (e) Toleransi lebar takik adalah 0,001 b.

(a) (b)

setidaknya 100mm

setidaknya 100mm

pelat konduktif pelat konduktif

pelat penahan

45º 45º

1/2B 1/2B

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (11)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 6 de 38

Gambar 4 - Overflow batas persegi panjang

(8) Lebar ambang lebar penuh harus memenuhi persyaratan berikut: (a) Tepi atas ambang lebar penuh harus rata di seluruh lebarnya.

saluran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5; (b) lebar ambang adalah fungsi dari panjang sisi tempat jig berada

antara permukaan dinding saluran; (c) Toleransi 0,001 B.

Gambar 5 - Sisi atas ambang lebar penuh

(9) Ketinggian air di belakang ambang harus kurang dari 20 cm dari puncak ambang.

b) Kanal (Kanal)

Saluran harus terdiri dari: penampang konduksi (L2), penampang aliran terarah (Ls), penampang aliran terarah (L1), seperti ditunjukkan pada Gambar 6 dan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Gambar 6 - Saluran

B

1/2 B1/2 B

B

Bagian sumber sumber L2 Ls

Bagian aliran terarah Bagian aliran terarah

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (12)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 7 de 38

(1) Panjang setiap penampang saluran harus sesuai dengan Tabel 1. Jika saluran tidak dilengkapi dengan penampang pengarah aliran, maka panjang penampang pengarah (L1) paling sedikit 10 kali lebar saluran. saluran bagian aliran arah.

Tabel 1 - Panjang setiap bagian saluran

Penjabaran dari L1 Ls L2

Prag trokuta > (B + 2 jam' ) ± 2 jam' > (B + jam' )

Nilai kuadrat > (B + 3h' ) ± 2h' > (B + 2h' )

Batas jumlah total > (B + 5h'), ± 2 jam' > (B + 3 jam')

(2) Saluran di bagian hilir (Ls) harus lurus dan sisi vertikalnya harus kokoh untuk menghindari deformasi jika terisi penuh dengan air. Selain itu, garis aksial dan saluran harus lurus dan ketebalan saluran harus seragam.

(3) Pada saluran ambang dengan lebar penuh, kedua dinding saluran harus dinaikkan sebanding dengan tinggi maksimum (h') atau lebih di hilir pelat ambang dan pelat penyangga, seperti ditunjukkan pada Gambar 7, untuk mencegah aliran air ke hilir. ambang dari meluap ke samping. Ujung yang terangkat dari bagian terendah dinding adalah 50 mm atau lebih di bawah tepi ambang batas. Dinding saluran harus memiliki bukaan dengan diameter yang cukup untuk melepaskan udara yang terperangkap yang mengalir melewati pelat ambang.

Gambar 7 - Saluran dengan batas lebar total

(4) Saluran pada bagian yang mengarahkan aliran harus mempunyai tinggi muka yang sama dengan lebar saluran air yang diarahkan dan tingginya sama dengan dinding saluran pada sumber aliran. Bagian untuk mengarahkan aliran harus sedemikian rupa sehingga dapat mencegah munculnya gelombang, serta memastikan terciptanya aliran air yang terarah.

(5) Kapasitas menahan air pada bagian saluran masuk harus setinggi mungkin. Bagian ini harus lebih dalam dan lebih lebar dari arah aliran. Ketinggian dinding di bagian saluran masuk harus lebih tinggi dari dinding samping yang searah dengan bagian aliran untuk mencegah air meluap.

(6) Pengukuran ketinggian harus dilakukan dengan menentukan tinggi muka air dalam tabung kecil yang dihubungkan ke saluran melalui lubang kecil pada dinding bagian arus searah, seperti ditunjukkan pada Gambar 8.

150

hmaksimum tinggi atau lebih tinggi

atau

lagi

H

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (13)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 8 de 38

Gambar 8 - Alat pengukur tinggi badan

(7) Posisi jarum minimal 3 h' (h' adalah tinggi penghalang maksimum) dan jarak maksimum B (lebar saluran) dari permukaan bagian dalam penghalang hulu. Sepanjang tingginya 50 mm atau lebih di bawah dasar potongan, baik dari titik bawah atau sisi bendung, atau jarak minimal 50 mm dari dasar saluran ke permukaan air dihitung .

(8) Lubang harus berdiameter dalam antara 10 mm dan 30 mm dan dibor tegak lurus terhadap permukaan dinding saluran. Permukaan dinding sekeliling lubang harus rata dan sisi-sisi sekeliling lubang harus bebas dari cacat.

c) Prosedur pengukuran

Pengukuran dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Pengukuran harus dilakukan pada kondisi air jatuh melalui bendungan

mengalir tanpa suara (2) Pengukuran ketinggian titik nol dilakukan sesuai contoh berikut,

dan dengan akurasi sekitar 0,2 mm; (a) ketika mengukur konstitusi persegi panjang atau konstitusi lebar penuh, sebuah segitiga

satu meter atau sejenisnya ditempatkan di hulu pondasi, setelah disesuaikan dengan ketinggian tepi bendungan dengan waterpas, barulah air mengalir hingga mencapai ketinggian tersebut. Penunjukan alat ukur yang terpasang pada tangki air kecil dalam kondisi ini dibaca, pembacaan menunjukkan titik nol.

(b) Saat mengukur partisi segitiga, segitiga pengukur ditempatkan di dalam partisi dan batang bundar berdiameter D ditempatkan secara horizontal dan sejajar dengan sumber longitudinal saluran di ujung potongan dan kemudian tinggi partisi. dasar batang disesuaikan, pembacaan titik nol diperoleh dari perhitungan seperti yang ditunjukkan pada gambar. 9.

Gambar 9 - Perhitungan titik nol kepala ambang segitiga

50 mm

50 mm 10 - 30 mm

H

D

45o45o

h = 0,2071 D

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (14)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 9 de 38

(3) Akurasi pengukuran tinggi muka air adalah 1/250 dari tinggi untuk pondasi segitiga atau 1/150 dari tinggi untuk pondasi persegi panjang atau lebar penuh.

(4) Untuk mengukur ketinggian air sebaiknya menggunakan alat pengukur ketinggian air atau pelampung yang dapat menunjukkan pembacaan dengan tingkat ketelitian tertentu, atau alat pengukur ketinggian air yang memiliki ketinggian yang sama.

(5) Pengukuran ketinggian harus dilakukan setelah ketinggian air di tangki kecil telah stabil.

d) Perhitungan

Perhitungan aliran harus dilakukan menurut persamaan berikut: (1) Limit segitiga siku-siku (lihat Gambar 10) dihitung dengan menggunakan persamaan (1).

2/5.hKQ = ............................................... ..... ........................................... ..... (1 )

Keterangan: Q adalah debit aliran (m3/s) h adalah ketinggian air di atas pondasi (m) K adalah koefisien kapasitas, 1,39 atau dihitung dengan persamaan (2)

2)09,0)(124,8(24,02,81 -++=Bj

DhK .............................................. .. ...... (2)

Keterangan : B adalah lebar saluran (m) D adalah tinggi pembatas saluran yang dipotong dari dasar saluran (m)

Persamaan (1) hanya berlaku untuk nilai berikut:

B=0,5 m untuk 1,2 mh = 0,07 m untuk 0,26 mD = 0,1 m untuk 0,75 m

h ≤ <3B

Gambar 10 - Ambang segitiga siku-siku

B

90°

Dh

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (15)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 10 de 38

(2) Untuk partisi persegi panjang (lihat gambar 11) dihitung dengan persamaan (3).

2/3..hbKQ = ...................................... .. ... .............................................. . ..... (3)

Keterangan: Q adalah debit aliran (m3/s) b adalah lebar pondasi (m) h adalah tinggi air di atas pondasi (m) K adalah koefisien kapasitas, dihitung dengan persamaan (4)

eh

dan itu

adalah +

--++=

basis data

DBhbBx

Dh

hK 04,2)(7.254.8117,01.107 ........................ (4)

Persamaan (3) hanya mengacu pada:

B = 0,5 m para 6,3 mb = 0,15 m para 3,5 mD = 0,03 m para 0,45 m √ b mh = 0,15 m para 0,5 m

S,

06,0.>

BDb

Gambar 11 - Ambang persegi

(3) Lebar partisi terbuka penuh (lihat gambar 12), dihitung dengan persamaan (5)

2/3..hbKQ = ...................................... .. ... .............................................. . ..... (5)

Keterangan: Q adalah debit (m3/s) b adalah lebar ambang (m) h adalah tinggi air di atas pondasi (m) K adalah koefisien kapasitas, dihitung dengan persamaan (6)

B

B

H

D

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (16)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 11 de 38

)1)(2,14117,0(1,107 Î+++=Dj

h K ............................................... . ...............(6)

Keterangan: D adalah tinggi ambang bagian bawah saluran (m) Ê adalah faktor koreksi (jika D = 1 m, Ê = 0 dan jika D > 1 m, Ê = 0,55)

Persamaan (5) hanya mengacu pada:

B ≥ 0,5 m sebesar 6,3 mD = 0,3 m sebesar 2,5 mh = 0,03 m sebesar D m

h tidak boleh > 0,8 m dan tidak > B

Gambar 12 - Batas lebar total

2) Pengukuran menggunakan orifice plate dan nozzle

a) Plat berlubang

Konstruksi panel dengan bukaan secara umum dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 - Pelat pembuka

Nilai koefisien kapasitas bukaan panel dengan menggunakan keran sudut dapat dilihat pada tabel II buku SNI 19-0140-1987 pasal 5.2.1.1.

DD

Aliran (lubang)

piring dengan bukaan

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (17)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 12 de 38

b) Nariz

Konstruksi nozzle secara umum dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14 - Cerat

Nilai koefisien kapasitas nosel dapat dilihat pada tabel II SNI 19-0140-1987 buku pasal 5.2.1.2.

c) Botol tipe tabung venturi

Konstruksi tabung venturi tipe nozzle dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15 – Tabung venturi tipe Bico

Nilai koefisien kapasitas tabung venturi tipe nozzle dapat dilihat pada tabel II buku SNI 19-0140-1987 pasal 5.2.1.3.

d) Tabung venturi sabia

Rancangan venturi yang berbentuk kerucut secara umum dapat dilihat pada Gambar 16.

Jenis kelamin

(Lubang)

D

Tipe pipa panjang Tipe pipa pendek Laju aliran

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (18)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 13 de 38

Gambar 16 – Tabung Konis venturi

Nilai koefisien kapasitas untuk tabung venturi tipe nozzle dapat dikonsultasikan pada tabel II buku SNI 19-0140-1987, pasal 5.2.1.4 atau pada buku Cara uji pengukuran aliran pompa, pasal 4.1.5.2.

Catatan: Dalam kasus bejana venturi berbentuk kerucut, terdapat bagian inlet konvergen yang berputar, dan terdapat bejana venturi berbentuk kerucut yang konvergensi inlet menggunakan pelat logam yang dilas bersama (lihat Gambar 17).

Gambar 17 – Bejana venturi dengan corong

e) Prosedur pengukuran

Pengukuran perbedaan tekanan: (1) Perbedaan tekanan (h) pada titik tap tekanan di area hulu dan hilir alat ukur

aliran" harus diukur dengan ketelitian minimal 2,5% dari perbedaan tekanan yang terukur menggunakan manometer air raksa tabung-U atau alat ukur sejenis lainnya;

(2) Diameter dalam tabung kaca yang digunakan untuk manometer air raksa harus antara 6 mm dan 12 mm, dan dua tabung kiri dan kanan harus berukuran hampir sama. Jika perbedaan tekanan yang diukur tidak melebihi 100 mm kolom air, diameter dalam tabung kaca tidak boleh kurang dari 10 mm;

(3) Sebelum melakukan pengukuran, perlu untuk menghilangkan udara yang terperangkap di dalam tabung pengukur;

(4) Jika digunakan manometer air raksa tabung U, beda tekanan h dapat diperoleh dengan mengubah hasil pengukuran h menggunakan persamaan (7).

Psst

'' ).55,13( -= ...................................... .. .. ................................................. .. ... (7)

Catatan: h adalah perbedaan tekanan antara keran di daerah hulu dan hilir flowmeter (m) h' adalah hasil pembacaan kolom air raksa (m)

Jenis kelamin

Tipe tabung pendek Ø d

OED

Jenis kelamin

Kompartemen Bundar

Di depan

tipe laras panjang

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (19)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 14 de 38

S' adalah berat jenis air dalam manometer air raksa S adalah berat jenis air dalam tabung ukur.

f) Perhitungan

Persamaan yang digunakan untuk menghitung debit air adalah:

hgaQ ..2...60a= ………………………….. ............................. ................. 8)

Keterangan: Q adalah aliran (m3/min) dan adalah koefisien kapasitas

e adalah luas bukaan alat ukur 2

4dP

=

d adalah diameter leher alat ukur (m2) g adalah percepatan gravitasi (9,81 m/s) h adalah perbedaan tekanan (m)

Nilai koefisien mengacu pada bilangan Reynolds untuk berbagai jenis alat ukur. Bilangan Reynolds dapat dihitung berdasarkan persamaan (9).

( ) ( )vdVdV ...Re ==

Pak

.............................................. . ..............................(9)

Keterangan: V adalah kecepatan rata-rata dalam pipa selama pengukuran (m/s) d adalah diameter pipa ukur (m)ρ = massa jenis fluidaµ = viskositas absolut atau dinamis v = viskositas kinematik (m2/s)

3) Mengukur dengan mangkuk/wadah takaran

a) Metode berat. Selokan harus memiliki kapasitas yang cukup untuk mencegah air meluap selama pengujian.

b) Metode volume (1) Tubuh memiliki kapasitas yang cukup untuk mencegah aliran cairan

meluap pada saat pengukuran; (2) Bak mandi harus cukup tinggi untuk memungkinkan perbedaan ketinggian

cairan hingga 500 mm atau lebih; (3) harus cukup kaku dan tidak boleh bergeser saat diisi cairan, dan

memiliki bagian horizontal yang seragam.

c) Prosedur pengukuran Pengukuran harus dilakukan sesuai petunjuk berikut: (1) Pengisian tong dengan air dari awal sampai akhir harus dilakukan secepat mungkin dan

seakurat mungkin; (2) Waktu penuangan air ke dalam bak mandi sebaiknya dilakukan sebanyak 200 kali atau

lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk membuka katup aliran dan harus diukur dengan alat pengukur yang akurat, yaitu yang dapat mengukur

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (20)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 15 de 38

hingga 1/10 detik. Nilai rata-rata dari beberapa pengukuran dianggap sebagai nilai terukur;

(3) Selama pengukuran, suhu dicatat; (4) Bila uji volume digunakan, selisih tinggi zat cair adalah

yang digunakan sebagai alat ukur tidak boleh kurang dari 500 mm; (5) Jika suatu cairan akan digunakan untuk pengujian yang, karena satu dan lain hal,

Gelembung udara yang terkandung sangat sulit untuk dihilangkan, sehingga harus digunakan metode pemberatan. Perhatikan bahwa pengukuran baru dapat dilakukan setelah pembuangan udara sepenuhnya.

d) Perhitungan (1) Metode bobot

Dihitung menggunakan persamaan (10).

tWQ

0,06,0

g = ............................................... ..............................................(10)

Keterangan: Q adalah laju alir (m3/s) W adalah berat zat cair yang ditempatkan dalam tangki selama waktu t detik (kg)g adalah berat jenis zat cair pada temperatur terukur (kgf/l)t adalah waktu yang diperlukan untuk menempatkan berat kg (dengan)

(2) Metode volume

Dihitung menggunakan persamaan (11);

qVQ = .............................................. .............................................................. ..(11)

Keterangan : Q adalah debit aliran (m3/s) V adalah volume air yang ditampung dalam tangki t detik (m3) t adalah waktu yang diperlukan untuk menambahkan cairan sebanyak V m3 (detik)

Catatan: Timbangan ukur yang terletak pada wadah sebelumnya harus dikalibrasi dan memiliki akurasi pengukuran hingga 2,5% dari volume cairan yang akan diukur.

4) Pengukuran dengan flow meter

a) Alat pengukur Pengukur aliran permukaan terapung Pengukur aliran dalam setiap pengujian harus dipilih sesuai dan cocok untuk penggunaannya.

b) Instalasi uji Instalasi uji harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Flowmeter harus dipasang sehingga sumbu pipa

keran yang terhubung ke tabung aliran secara vertikal dan melintasi sumbu tabung aliran fluida, perlu untuk mencoba menjaga getaran yang dihasilkan sekecil mungkin;

(2) Panjang pipa keran jika dipasang di bagian hulu minimal harus 5 kali diameter dalam, dan jika dipasang di bagian hilir harus minimal 3 kali diameter dalam tabung keran. Gambar 18 menunjukkan contoh ukuran pemasangan yang diantisipasi.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (21)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 16 de 38

Gambar 18 - Panjang keran

(3) Saat memasang flowmeter, pipa harus dikencangkan dengan aman untuk menghindari kesalahan pembacaan pada flowmeter.

c) Prosedur pengukuran Prosedur pengukuran dapat mengikuti cara-cara sebagai berikut: 1) Penyesuaian laju aliran dalam pengukuran dilakukan dengan penyetelan katup

yang dipasang di hilir flowmeter; 2) saat pengaturan aliran dilakukan dengan mengatur katup yang ada

pipa outlet pompa, flowmeter harus memiliki jarak yang cukup dari katup. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi pada aliran akibat pengaturan valve tidak akan mempengaruhi tampilan skala pada flowmeter. Dalam kedua keadaan tersebut, penyetelan katup harus dilakukan secara perlahan dan pengukuran baru dilakukan setelah pembacaan skala pada flowmeter telah stabil.

d) Akurasi pengukuran Flowmeter harus memiliki akurasi pengukuran hingga 2,5% dari nilai beban yang terukur.

Catatan: (1) Kalibrasi alat dilakukan sesuai dengan metode yang benar dan harus

dilakukan di daerah hulu dan hilir flowmeter; (2) Kesalahan yang diizinkan setelah kalibrasi perangkat tidak boleh melebihi 1%

dari nilai tertinggi pada skala, dengan rentang kerja flowmeter yang sesuai.

5) Pengukuran dengan hidrometer

Pengukuran dengan hidrometer yang digunakan untuk mengukur distribusi air minum harus memenuhi SNI 05-2547-1991 yang telah direvisi.

4.2.1.2 Dimensi jendela

Dimensi bukaan kontrol dibuat dengan ukuran (65 x 65) cm.

Aksesori Manhole: 1) Engsel, 2) Gembok, 3) Gagang Pengangkat, 4) Segel Karet,

Pengukur aliran arah aliran

(1) Tabung pendukung

3D

5D

pengukur aliran

tren 5D

3D

(2) Tabung horizontal

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (22)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 17 de 38

5) Tangga dinding 6) Bahan lubang inspeksi:

· Lembaran baja · Beton bertulang · Kayu mutu Kelas I

4.2.1.3 Dimensi saluran terbuka

Persamaan untuk menghitung dimensi saluran terbuka adalah persamaan Manning (12), dengan asumsi: a. Aliran seragam berarti parameter aliran tidak berubah

tempat/posisi; B. Aliran konstan, artinya parameter aliran tidak berubah

tempo.

Persamaannya adalah:

2/13/2 ...1 SRAn

Q = .............................................. ....... .............................................. . (12)

Perhatikan bahwa Q adalah aliran rencana (m3/s) n adalah koefisien kekasaran Manning (tanpa satuan) A adalah luas penampang basah (m2) = 2.) ( hmbxh + h adalah kedalaman air ( m) b adalah lebar saluran bawah (m)

m adalah kemiringan lereng (side slope) = mendatar

vertikal

R adalah jari-jari hidrolik (m) = pA

p adalah keliling bagian yang dibasahi (m)= 5.0)1(2 mhb ++S adalah kemiringan talang) Fb adalah tinggi pelat bebas H adalah kedalaman saluran = bFh +

Gambar 19 - Potongan melintang saluran drainase

Perhitungan dilakukan dengan trial and error. Atur nilai h/b (height:width ratio) mendekati 1 (satu) dan bereksperimen dengan nilai h, diperoleh nilai Q. Nilai h yang digunakan adalah nilai h yang memberikan Q penilaian dan Hasil kesalahan aproksimasi bidang Q.

Nilai koefisien kekasaran manning untuk berbagai jenis bahan saluran ditunjukkan pada Tabel 2.

mh

fb

H1

bm.hm.h

H. (1+m2) 0,5

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (23)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 18 de 38

Tabel 2. Koefisien kekasaran manning untuk berbagai jenis bahan saluran

No Koefisien kekasaran Manning123 tipe Kanal

Betonski kanal, kameni kanal, natural kanal

0,017 - 0,0200,020 - 0,0250,025 - 0,045

4.2.1.4 Pagar pengaman keliling

Garis pagar keamanan ditempatkan antara 5m dan 10m dari titik asal dan dilengkapi dengan gerbang inspeksi. Ketinggian pagar pelindung sekitarnya ditentukan dari 1,8 m hingga 2,2 m.

4.2.1.5 Perencanaan Struktural

Perencanaan bangunan pengambilan air baku harus memperhatikan jenis dan karakteristik tanah.

1) Struktur bawah (pondasi) Untuk mata air yang keluar dari batuan, peletakan pondasi disesuaikan dengan profil permukaan batuan dan diusahakan untuk membuat sekat-sekat pada celah antar batuan agar tidak terjadi infiltrasi tidak terjadi.

Untuk mata air yang keluar dari dalam tanah, letak pondasi ditentukan berdasarkan hasil survey sondir, jika kondisi tanah lunak dapat digunakan pondasi pada tiang pancang. Kedalaman pondasi, yang juga berfungsi sebagai tirai, mengalir ke permukaan air tanah yang paling rendah.

2) Bangunan Atas Bangunan atas terdiri dari: (a) dinding

Ketinggian dinding penyangga ditentukan sesuai dengan pegas yang diambil, biasanya pegas yang paling rendah digunakan sebagai alas. Ketebalan dinding tergantung pada tinggi dinding, lebar bentang dan tekanan air.

(b) Cakupan Ketebalan penutup tergantung pada beban kerja, berat penutup itu sendiri dan berat bahan waterproofing. Bentang maksimal atap yang ideal adalah 3 meter, jika lebih panjang harus dilengkapi rangka yang halus.

4.2.1.6 Bangunan yang menangkap mata air (broncaptering)

PMA merupakan bangunan penampung air sekaligus unit produksi, dengan penambahan disinfektan sebelum disalurkan.

4.2.1.6.1 Pendaftaran bangunan

Itu. Muka air di bangunan tangkapan tidak boleh lebih tinggi dari muka air asli (tingkat sumber sebelum bangunan dibangun).

B. Pondasi bangunan resapan air dibangun sedemikian rupa agar tidak mengganggu aliran air tanah.

w. Tabung pelimpah ditempatkan pada ketinggian air asli D. Struktur tangkapan eksternal harus kedap air dan tahan terhadap longsoran.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (24)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 19 de 38

Dia. Ketinggian pengumpul pegas maksimum didasarkan pada ketinggian air kolam ditambah jarak bebas.

F. Bangunan sumber tangkapan air dilengkapi dengan saluran air hujan yang tidak tembus air di sekitar bagian atas bangunan sumber tangkapan air dengan kemiringan 1% sampai 5% ke arah saluran air untuk mencegah air masuk ke gedung PMA.

Pak. Di sekeliling bangunan diberi pagar untuk mencegah masuknya hewan atau orang yang tidak berkepentingan.

4.2.1.6.2 Pembangunan waduk

Itu. Tangki penyimpanan harus kedap air, dengan permukaan yang halus, tertutup dan dilengkapi dengan pipa udara, pipa pelimpah, pipa pembuangan, pengukur, pipa pembuangan dan poros.

B. Bangunan tangkap dan bangunan penyimpanan ditempatkan pada jarak maksimum 30 m. Jika kondisi di lapangan tidak memungkinkan atau untuk memudahkan pengelolaan, jarak antara bangunan penangkap dan bangunan penyimpanan bisa lebih dari 30 m. Dalam kasus tertentu atau karena alasan teknis, untuk itu kedua bangunan ini dapat diletakkan agak berjauhan satu sama lain dengan jarak maksimal 30 meter yang dihubungkan dengan pipa.

4.2.1.6.3 Volume bak penampung

Volume tangki penyimpanan ditentukan berdasarkan: a. Debit pegas maksimum b. Waktu penahanan minimum 10' (sepuluh menit) Volume tangki, lihat tabel 3.

Tabel 3-Volume bak penampung

Aliran jeruk < 0,5 L/hari (0,5 – 0,6) L/hari (0,7 – 0,8) L/hari > 0,8 L/hari

200-300 5 m³ 2 m³ 2 m³ 2 m³ 300-400 10 m³ 5 m³ 2 m³ 2 m³400-500 10 m³ 10 m³ 5 m³ 2 m³

4.2.1.6.4 Komponen IED

Tabel 4-Komponen IDE

No komponen PMA Kriteria desain Bangunan kolektor

air1) Perencanaan gedung PMA harus memperhatikan

jenis dan karakteristik tanah 2) Konstruksi di bawah pondasi dan untuk mata air yang keluar

batuan, menempatkan pondasi sesuai dengan profil permukaan batuan dan berusaha membuat sekat-sekat pada celah antar batuan untuk menghindari infiltrasi

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (25)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 20 de 38

Tabel 4 - Komponen Penanaman Modal Asing (lanjutan)

TIDAK. Kriteria Desain Komponen PMA3) Untuk pegas yang keluar dari tanah,

Penempatan pondasi ditentukan berdasarkan hasil survey bor. Jika tanahnya lunak, pondasi tiang pancang dapat digunakan. Kedalaman pondasi yang juga berfungsi sebagai flow curtain ini berada di bawah muka air tanah.

4) Dimensi pondasi harus memperhitungkan beban kerja, meliputi: a) beban sendiri pondasi dan dinding b) beban atap dan beban tambahan yang dapat diasumsikan

sebesar 150-200 kg/m2

c) tekanan air) tekanan tanah) dalam perhitungan pondasi bangunan DAS,

bangunan harus diperiksa aman terhadap penurunan muka tanah, tekanan air tanah yang meningkat, dan longsoran salju

5) Dimensi struktur atas terdiri dari: a) dimensi dinding, § tinggi dinding penyangga ditentukan berdasarkan pondasi

ambil spring outlet, biasanya spring outlet paling bawah digunakan sebagai alas§ tebal dinding tergantung tinggi dinding,

lebar bentang dan tekanan airb) dimensi atap§ ketebalan atap bergantung pada beban hidup

kerja, berat atap itu sendiri dan berat waterproofing § bentangan maksimum atap yang ideal adalah 3

m, jika lebih, harus dilengkapi dengan ring balok

b Tangki 1) Perhitungan dimensi meliputi perhitungan dimensi bangunan dan dimensi hidrolik

2) Secara empiris volume tangki air untuk sumber mata air yang berbeda dan jumlah kunjungan dapat dilihat pada Tabel 3.

c - Pipa pembuangan untuk konsumen air minum

- Menguras (outlet) untuk konsumen lain (pertanian, perikanan, dll.)

Dimensinya disesuaikan dengan jumlah air baku yang dibutuhkan dan diletakkan pada ketinggian minimal 0,30 m dari dasar tangki. Dimensi keluaran ditentukan berdasarkan rumus Hazen-William (lihat persamaan 13)

d Tabung luapan 1) Dimensi tabung luapan dihitung dengan rumus Drempel 2) Luapan berada di atas batas persegi panjang, ada

rumus 3) Dimensi pipa luapan sirkular digunakan rumus Manning

e Pipa pembuangan (cuci)

1) Saluran pembuangan segi empat memiliki rumus (lihat lampiran)

2) Rumus drainase melingkar, lihat lampiran meteran debit

(Thomson/Cipoletti) Dimensi ditentukan sesuai dengan deskripsi alat ukur Thomson dan Cipoletti

g Konstruksi tahan erosi

Plester batu kali dengan pasangan

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (26)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 21 de 38

Tabel 4 - Komponen IDE (lanjutan)

TIDAK. Pembukaan Pemeriksaan Kriteria Desain Komponen PMA

(sumbu) Bukaan untuk pemeriksa adalah (65 x 65) cm2, untuk memudahkan keluar masuknya orang.

e Pagar Jari-jari pagar ditentukan jauh (5-10 m dari sumber) dan dilengkapi dengan pintu inspeksi. Ketinggian pagar ditentukan sebagai (1,8 – 2,2) m.

j Saluran air hujan di sekitar WFP

1) Berfungsi sebagai parimeter drainase 2) Dimensi ditentukan berdasarkan analisis hidrologi yaitu

intensitas curah hujan 3) Koefisien limpasan besar dan daerah tangkapan air bisa

dihitung dari peta kontur Pipa udara/ventilasi Selesai sesuai kebutuhan Inspeksi jalan Selesai sesuai kebutuhan

4.2.1.6.5 Dimensi hidrolik

a) Dimensi pipa pembuangan Ukuran pipa pembuangan disesuaikan dengan jumlah air baku yang dibutuhkan dan diletakkan pada ketinggian minimal 0,30 meter dari dasar bak mandi. Dimensi keluaran ditentukan berdasarkan rumus Hazen-William:

87.485,1

85.110

D.CQ.L10.214,1H = ...................................... .. .. .............................................. (13 )

Dimana: H adalah beda tinggi (m) L adalah panjang pipa (m) Q adalah debit aliran (L/s) D adalah diameter pipa C adalah koefisien kekasaran Koefisien kekasaran pipa tergantung pada jenis tabung dan kondisinya . Koefisien kekasaran pipa dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5- Koefisien kekasaran tabung

TIDAK. Koefisien kekasaran jenis bahan tabung1. AC 1302. Ulet, besi tuang, GIP 1203. PVC 1304. DICL, MSCL 130

B. Dimensi pipa pelimpah (overflow pipe) ditentukan dengan rumus:

Keluaran QQQ meluap -= ................................. ........... ... ........................... (14)

Keterangan : Qover flow adalah aliran keluaran (m3/detik) Qspring adalah aliran sumber (m3/detik) Qout adalah aliran konsumsi (m3/detik)

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (27)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 22 de 38

1) Rumus Drempel untuk dimensi pipa hulu:

2/3..71,1 hBQ = ...................................... .. .. ................................................. .. ... .. (15)

Keterangan: Q adalah debit limpasan (m3/detik) B adalah lebar bendung (m) H adalah tinggi air di hulu bendung (m) 1,71 konstanta

2) Luapan di atas batas persegi panjang § Tidak ada aliran yang menyempit

2/3.2..32 HgCdQ = ...................................... .... .............................. (16)

§ Terjadi penyempitan aliran

2/3.).1,0.(2..32 HHnLgCdQ -= ............................... .................... (17)

Keterangan: Q adalah aliran limpasan (m3/detik) Cd adalah koefisien aliran, menurut Perancis: Cd = 0,623 Rehback: Cd = 0,605 + 0,08 H/Z + 0,001/HL adalah lebar bendung (m) g adalah percepatan gaya berat ( = 9,81 m/s2)H adalah tinggi energi air di hulu ambang (m) n adalah jumlah permukaan bangunan dengan dinding = 2Z adalah tinggi ambang dari dasar (m)

3) Dimensi tabung luapan bulat, gunakan rumus Manning:

2/13/2 ...1 SRAn

Q = .............................................. ....... .............................................. (18)

Dimana : Q adalah debit aliran (m3/detik) A adalah luas penampang (m) R adalah radius hidrolik (m) S adalah kemiringan (slope) n adalah koefisien Manning Untuk mendapatkan debit aliran maksimum , maka: § Kedalaman air ( Y) = 0,95 x diameter lingkaran § Jari-jari hidrolik (R) = 0,29 x diameter lingkaran

w. Dimensi pipa pembuangan (pelepasan) 1) Pembuangan berbentuk persegi panjang

2/3,2...32 HgbCdQ = ...................................... . .............................................. (19)

Keterangan : Q adalah aliran drainase (m3/s)

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (28)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 23 de 38

Cd adalah koefisien debit = 0,60b adalah lebar dasar saluran (m) g adalah percepatan gravitasi (m/s2) h adalah tinggi saluran (m) H adalah ketinggian air di atasnya selokan (m)

2) Dimensi saluran pembuangan berbentuk bulat

gCddQ 2....41 2p= ................................................ .............................................. (20)

Keterangan : Q adalah debit aliran (m3/detik) D adalah diameter lingkaran (m) Cd adalah koefisien debit = 0,60G adalah percepatan gravitasi (m/detik2) H adalah tinggi muka air ke garis tengah lingkaran (m)

D. Perhitungan Dimensi Perhitungan dimensi dalam PMA meliputi perhitungan dimensi bangunan dan dimensi hidrolik. Secara empiris, Tabel 6 menunjukkan dimensi tangki air untuk berbagai sumber dan jumlah pekerjaan yang berbeda.

Tabel 6 Dimensi waduk mata air di tingkat masyarakat (m3)

Layanan (kk)

Karena 0,010L/hari

Debito 0,015L/det

Debito 0.020L/det

Debito 0,025L/det

Debito 0,030L/det

Debito 0,040L/det

5 KK 0,22 0,40 0,90 1,30 2,70 2,6010 KK - - 0,50 0,50 0,9 1,720 KK - - - - - 6,2

4.2.1.7 Sumber air tanah

4.2.1.7.1 Penetapan bangunan pengumpul air tanah

Bentuk bangunan untuk ekstraksi dapat dibuat dari berbagai bahan, tergantung pada: 1) cara pengumpulan menggunakan pompa atau ember, 2) kemudahan konstruksi atau produksi dengan penggalian atau pengeboran, 3) kondisi hidrologi atau hidrogeologi.

4.2.1.7.2 Menentukan jenis konstruksi intake air tanah

Penentuan jenis konstruksi daerah tangkapan air tanah didasarkan pada beberapa faktor, antara lain: 1) Faktor geologi dan hidrogeologi regional yang berkaitan dengan pola akuifer dan

potensi air tanah, 2) faktor kemudahan implantasi, 3) faktor kuantitas atau kuantitas air yang diinginkan termasuk kualitasnya.

Berdasarkan kedalamannya, struktur pengambilan air tanah dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1) sumur dangkal, 2) sumur dalam.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (29)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 24 de 38

4.2.1.7.3 Pertimbangan pemilihan fasilitas pengumpulan air tanah

Pertimbangan pemilihan bangunan untuk pengambilan air tanah adalah sebagai berikut:

1) Sumur dangkal; Secara umum, kebutuhan air di wilayah perencanaan rendah. Potensi sumur dangkal mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum di wilayah perencanaan, bahkan di akhir musim kemarau atau dalam kondisi kritis.

2) Sumur dalam Secara umum, kebutuhan air di wilayah perencanaan cukup tinggi. Potensi sumur dalam dapat memenuhi kebutuhan air minum di wilayah perencanaan, sedangkan kapasitas air tanah dangkal tidak mencukupi.

4.2.1.7.4 Peralatan yang terdapat dalam pembangunan fasilitas pengumpulan air bawah tanah

1) Sumur dangkal; a) Cincin beton kedap air, b) Cincin beton dengan saringan atau lubang, c) Penutup sumur yang dilengkapi penutup lubang got, pipa saluran keluar pompa,

lubang udara dan lubang kabel, d) Tangga, e) Kontaminasi sealant dengan air permukaan.

2) Sumur dalam; a) Jug tube atau pump casing, b) Blind tube atau selubung blind tube, c) Strainer tube atau screen, d) Observation tube atau piezometer, e) Well cover dilengkapi dengan outlet tube dan lubang kabel, f) Dop socket, g) Kerikil.

4.2.1.7.5 Penentuan dimensi

1) Sumur dangkal; Diameter efektif lubang adalah antara 1 m dan 2 m, yang dimaksudkan untuk memudahkan penggalian. Diameter dan kedalaman sumur ditentukan dengan memperhatikan tinggi muka air tanah dan laju aliran yang digunakan.

2) Sumur dalam Sumur dalam yang dibangun dengan sempurna terdiri dari: - selongsong pompa - selongsong tabung buta - tabung filter - tabung observasi (tabung piezometer)

Penjelasan dari masing-masing tabung tersebut adalah sebagai berikut:

a) Pump casing Sesuai dengan fungsinya sebagai pump casing, maka pipa casing diletakkan di atas mulai dari permukaan tanah hingga kedalaman yang direncanakan setelah melihat data litologi dan hasil logging di area perencanaan.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (30)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 25 de 38

Potensi sumur dalam dapat memenuhi kebutuhan air minum di wilayah perencanaan, sedangkan kapasitas air tanah dangkal tidak bisa.

Diameter tabung mangkuk dirancang sesuai dengan jumlah air yang dibutuhkan dan pompa yang digunakan, sehingga pompa dapat dengan mudah diturunkan ke dalam tabung.

b) Blind tube (selubung tabung kosong) Blind tube diletakkan di bawah bowl tube, diameter blind tube direncanakan sama dengan diameter tabung filter, dan panjang setiap ruas dapat ditentukan dari dengan ketebalan akuifer atau lapisan non-aqueous yang dapat dilihat pada data litologi dan hasil logging.

c) Tabung penyaringan (jaring) Tabung penyaringan berfungsi sebagai saluran masuk aliran air tanah dari lapisan akuifer ke bangunan untuk menangkap sumur dalam, tabung penyaringan ditempatkan di tempat lapisan akuifer yang ada dan pemasangannya dilintasi tabung buta. . Panjang tabung filter untuk setiap segmen ditentukan berdasarkan data ketebalan akuifer potensial yang akan digunakan, sedangkan diameter ditentukan berdasarkan besarnya koefisien permeabilitas debit akuifer.

d) Tabung pengamatan (tabung piezometer) Tabung pengamatan terletak di luar tabung mangkok, yang berfungsi sebagai piezometer, yaitu alat untuk memantau kedalaman air selama pemompaan. Diameter minimum tabung observasi adalah 20 mm (atau 3/4 inci).

4.2.1.7.6 Penentuan struktur sumur

1) Sumur dangkal; Struktur tangkapan air tanah dangkal yang paling umum digunakan adalah struktur beton bertulang berbentuk lingkaran (cincin). Buisbeton dibuat dengan panjang 0,5 m hingga 1,0 m untuk setiap segmen dengan ketebalan ring antara 10 cm hingga 15 cm, yang bergantung pada diameter beton yang digunakan dalam buis tersebut. Pada bagian bawah balok beton dibuat lubang pada dindingnya dan pada ujung masing-masing ring terdapat ring jantan-betina, sehingga balok beton yang satu dapat diikat dengan balok lainnya.

2) Sumur dalam; a) Tabung sumur

(1) Material pipa dengan spesifikasi mampu menahan tekanan dinding atau bebatuan, elastis, tidak mudah berubah bentuk.

(2) Pipa sumur harus paling sedikit 50 cm di atas lantai beton pengaman. b) Tabung penyaring

(1) Jenis filter atau screen adalah “Wire Wood Continuous Slot” pada “Rod Base”, yang berupa lilitan kawat pada penyangga dengan jarak antar kabel yang sama;

(2) Tabung filter memiliki persyaratan teknis sebagai berikut: - bukaan (25-40)%, tergantung pada jenis bahan dalam akuifer, - jumlah batang (20-36) potongan kawat penghantar, - kawat biasa. ketebalan berkisar antara (2–2,5) mm, - Tabung filter dapat dibuat dari jenis PVC, plastik yang diperkuat serat gelas

(FRP) dan pabrik GIP diproduksi sesuai persyaratan yang ditentukan.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (31)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 26 de 38

c) Pipa buta Bahan untuk pipa buta adalah pipa baja atau bahan lain seperti PVC, FRP dan GIP atau sejenis dengan spesifikasi yang tahan terhadap tekanan tanah atau dinding batu.

4.2.1.8 Sumber air permukaan

4.2.1.8.1 Sungai

Secara umum tipe-tipe cekungan hidrografi terbagi menjadi 5 (lima) tipe, yaitu: a. Bangunan penarikan gratis, b. Konstruksi bendungan dengan bendungan, c. Bangunan tangkapan ponton, d. Bangunan itu membentang jembatan, mis. Infiltrasi di galeri.

4.2.1.8.1.1 Konstruksi Bebas

Kelengkapan di gedung pengumpulan gratis: a. Penyaring sampah, b. pintu masuk, c. Struktur sedimen, D. Konstruksi sumur atau pemompaan, misalnya gerbang geser.

Pertimbangan pemilihan bangunan yang dapat diambil secara gratis: a) Fluktuasi muka air tidak terlalu besar, b) Kedalaman air cukup untuk masuk ke pintu masuk, c. Harus ditempatkan pada sungai yang datar, d. Aliran sungai tidak berubah, misalnya kestabilan lereng sungai cukup stabil.

4.2.1.8.1.2 Struktur hisap dengan bendungan

Peralatan pada bangunan tangkapan dengan bendungan: a. Penyaring sampah, b. entri, c. bendungan konvensional, d. Cuci pintunya.

Pertimbangan memilih bangunan pintu masuk dengan konstitusi: a) Kedalaman air tidak cukup untuk bangunan dengan akses bebas, b) Kandungan sedimen sungai tidak terlalu tinggi, c. Sungai tidak digunakan untuk transportasi, D. Dasar sungai tidak terlalu lebar.

4.2.1.8.1.3 Bangunan pintu masuk ponton

Peralatan di gedung pintu masuk ponton: a. Struktur terapung (perahu atau rakit), b. ruang pompa, c. perlindungan tabrakan d. tambatan,

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (32)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 27 de 38

Dia. Tali tambat, f. Tabung fleksibel, g. Filter atau pewarna, h. Petir.

Pertimbangan pemilihan bangunan pontoon collection: a. Sungai memiliki tepian yang cukup lebar, b. Fluktuasi muka air cukup besar, c. Kedalaman air cukup untuk memasang pompa.

4.2.1.8.1.4 Pembangunan jembatan penyeberangan

Penyelesaian bangunan pintu masuk jembatan : a. Jembatan tambatan, b. Jaring pembuangan sampah, c. Ruang pompa.

Pertimbangan pemilihan struktur jembatan : a. Fluktuasi muka air tidak terlalu besar, b. Tidak banyak sampah, c. Tepi sungai tidak cukup lebar.

4.2.1.8.1.5 Penyusupan di galeri

Peralatan di saluran resapan: a. Media infiltrasi, b. Tabung pengumpul (collector tube), c. Bagus.

Pertimbangan pemilihan saluran resapan: a. Kedalaman air sungai dangkal, b. Aliran air tanah cukup untuk dimanfaatkan, c. Sebagian endapan berupa lumpur, d. Ketinggian muka air tanah paling banyak 2 meter dari dasar sungai, artinya kondisi tanah dasar sungai cukup porous.

4.2.1.9 Sumber air danau

Itu. Menentukan jenis bangunan yang terlibat

Jenis bangunan resapan air danau bergantung pada kebutuhan dan kondisi lahan, secara umum bangunan resapan air dapat berupa: 1) Bangunan resapan bebas, 2) Bangunan resapan ponton, 3) Struktur resapan air danau jembatan.

B. Pertimbangan

Pertimbangan dalam menggunakan ketiga jenis bangunan pengumpan yang tercantum di atas: 1) Bangunan pengumpan gratis

a) Fluktuasi muka air di danau tidak terlalu besar, b) Ditempatkan di pinggir danau yang memiliki kekentalan air yang cukup,

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (33)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 28 de 38

c) Kondisi tanah di tepi danau cukup stabil, d) Kemiringan tanah di tepi danau cukup landai.

2) Bangunan penampung ponton) Fluktuasi air di danau tidak terlalu besar, b) Di tepi danau yang landai dan air hanya tergenang pada kondisi muka air

danau maksimum (penempatan struktur hisap memungkinkannya menonjol ke dalam danau),

c) Kondisi tanah di lereng danau cukup stabil, d) Bangunan untuk pemasangan jembatan, e) Fluktuasi air danau tidak terlalu besar.

3) Bangunan untuk pemasangan jembatan a) Di tepi danau yang landai dan hanya tergenang air pada kondisi muka air

danau maksimum (penempatan struktur hisap memungkinkannya menonjol ke dalam danau),

b) Kondisi tanah di dasar danau cukup stabil.

4.2.1.10 Sumber penyimpanan air

Pertimbangan yang diperlukan untuk menentukan jenis struktur resapan air waduk sama dengan pertimbangan untuk struktur resapan air danau.

4.2.1.11 Tangki

Itu. Menentukan jenis bangunan yang terlibat

Jenis bangunan tangkapan air yang dapat digunakan adalah: 1) Bangunan tangkapan air berdiri sendiri, 2) Struktur tangkapan jembatan, 3) Struktur tangkapan ponton.

B. Pertimbangan untuk memilih bangunan pasokan

Pertimbangan untuk memilih ketiga jenis bangunan yang akan diambil dan diambil adalah:

1) Bangunan dengan akses bebas a) Kondisi perataan dasar waduk relatif datar dan kedalaman air lebih besar

di pinggir tambak, b) Kondisi tanah di pinggir waduk cukup stabil, c) Konstruksi jembatan, d) Kondisi permukaan dasar bervariasi dan cenderung berupa lembah . kedalaman

air maksimal merata di tengah tambak, e) Kondisi tanah di tengah tambak cukup stabil.

2) Konstruksi bak ponton) Kondisi pendataran dasar bervariasi dan kedalaman air tidak merata, b) Kondisi tanah dasar waduk stabil.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (34)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 29 de 38

4.2.2 Kriteria perencanaan unit produksi

Perencanaan unit produksi yang terdiri dari: a. Unit pra pengendapan b. Unit koagulasi (pencampur cepat), c. unit flokulasi (slow mixer), d. Unit pengendapan (settling tank), mis. Unit penyaringan (filter), f. unit desinfeksi

Perencanaan unit produksi harus mengacu pada SNI 6773:2008, SNI 6774:2008, SNI 3981:2008.

4.2.3 Kriteria perencanaan unit transmisi

Perencanaan unit portable mengacu pada SNI 7511:2008.

4.2.4 Kriteria perencanaan unit distribusi

Perencanaan unit distribusi mengacu pada SNI 7509:2008.

4.2.5 Kriteria pusat layanan perencanaan

Unit pelayanan terdiri dari sambungan rumah tangga, hidran umum, keran umum, terminal sambungan dan hidran:

4.2.5.1 Sambungan Domestik (SR)

Itu. Layanan koneksi rumah berbeda untuk klasifikasi kota yang berbeda, yang dibagi menjadi kecil, menengah, besar dan metropolitan. - Kota kecil adalah kota dengan populasi antara 20.000 dan 100.000 orang, s

konsumsi air 90 l/o/h - 110 l/o/h - Kota berukuran sedang adalah kota dengan populasi antara 100.000 dan 500.000 jiwa,

dengan konsumsi air 100 l/o/jam - 125 l/o/jam - Kota besar adalah kota yang berpenduduk antara 500.000 - 1.000.000 jiwa,

dengan konsumsi air 120 l/o/jam - 150 l/o/jam - Kota metropolitan adalah kota yang berpenduduk lebih dari 1.000.000 jiwa,

dengan konsumsi air 150 l/o/jam - 200 l/o/jam.b. Panjang tabung servis dibatasi oleh luas area servis dalam sel

zona unsur/unsur. Meter konsumsi digunakan untuk mengukur konsumsi air oleh pelanggan. Hidrometer yang digunakan harus memenuhi SNI 2547:2008.

4.2.5.2 Hidran Umum (HU)

Itu. Mereka biasanya dipasang di daerah yang tidak ada air minum, daerah padat/terbangun, masyarakat berpenghasilan rendah dan daerah terpencil/terisolasi. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain: 1) air baku harus tersedia, baik dari operator SPAM, sumur dalam/dangkal,

instalasi pengolahan air minum sederhana, pelindung mata air dan/atau air hujan;

2) lokasi tujuan layanan berjarak kurang lebih 3 km dari jaringan distribusi operator SPAM;

3) jaringan distribusi penyedia spam masih memiliki kapasitas dan tekanan yang cukup;

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (35)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 30 de 38

4) instalasi HU yang airnya berasal dari penyelenggara SPAM harus mendapat izin dari penyelenggara SPAM selaku pemilik jaringan pipa;

5) jika sumber air dibangun sendiri atau pengelola SPAM bukan pengelola, harus diperhitungkan pengalihan ke HU;

6) HU dapat dilengkapi dengan gerobak berisi botol air ukuran 20 atau 10 liter, selain perlengkapan lainnya sesuai kebutuhan;

7) HU harus mampu melayani pengguna air minum sebanyak 60 L/orang/hari;

Tabel 7 - Peralatan Hu

TIDAK. Ukuran Ukuran

1. Bukaan kontrol dan poros (mm) 6002. Æ Pipa masuk (mm) 253. Æ Pipa keluar (mm) 194. Æ Pipa ventilasi (mm) 195. Æ Pipa pelepasan (mm) 196. Æ Pipa (mm) ) 197 .Tutup keran (mm) 198. Meteran air (mm) 19

Keterangan: Jumlah pipa saluran untuk HU volume 3 m3 sebanyak 4 buah, sedangkan jumlah pipa saluran air untuk HU volume 2 m3 sebanyak 3 buah.

B. Komponen modul HU terdiri dari: 1) Jaringan saluran (GIP)

a) Untuk pipa galvanis (GIP), gunakan kelas menengah dengan tekanan kerja nominal 10 bar.

b) Penyambungan pipa GIP dengan fitting c) Perubahan arah (tracker) pipa vertikal dan horizontal harus dilakukan dengan

gunakan aksesori belokan yang sesuai (untuk bengkokan 90° sebaiknya gunakan bengkokan panjang dan/atau gunakan bengkokan 2 x 45° dengan sepotong pipa di tengah, tergantung kondisi bengkokan).

d) Membalik arah aliran pipa, penyambungan untuk memperkecil/menambah diameter pipa tidak boleh dilakukan dengan pemanasan dan pemasangan pada dinding beton tidak diperbolehkan.

e) Sambungan dan aksesori harus terbuat dari bahan dengan karakteristik dan ketahanan yang sama atau lebih besar dari bahan pipa yang digunakan.

2) Tangki HUa) Volume HU 2-3 m3 direncanakan dapat digunakan oleh ± 100 orang atau 20 KK (1 KK = 5

jiwa) b) Jumlah HU yang dibutuhkan di wilayah pelayanan ditentukan berdasarkan

parameter berikut: - Jumlah orang yang akan dilayani - Kapasitas produksi air minum - Standar pelayanan

c) Tangki HU biasanya terbuat dari plastik yang diperkuat fiberglass (FRP) dan beberapa batu bata. Namun, wadah HU juga dapat terbuat dari polietilen (PE), kayu ulin (tahan air), plastik atau bahan tahan air food grade lainnya sesuai dengan kondisi setempat.

d) Tinggi minimum HU dari permukaan tanah adalah 60 cm e) Tebal dinding tangki HU yang terbuat dari bahan FRP untuk volume 3 m3 adalah 5 mm dan

untuk volume 2 m3 adalah 4 mm.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (36)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 31 de 38

f) Kekuatan struktur dapat menahan berat air dan tulangan HU g) Tulangan HU seperti terlihat pada tabel 1.h) Penutup tangki FRP:

- Dicetak terpisah dari bahan tangki (penutup tank top bisa dibuka) - Tepi sambungan antara penutup tangki FRP dan bodi dibuat lubang skrup

dengan diameter 8 mm dan jarak antar lubang 30 cm - Penutup bukaan inspeksi berengsel dan gantungan kunci dicetak

terhubung ke FRP.

3) Hidrometer jika air berasal dari operator SPAM; a) Pondasi tangki HU dibuat sesuai dengan kebutuhan struktur pasangan bata atau

dapat disesuaikan dengan kondisi setempat sepanjang memenuhi persyaratan daya dukung tanah;

b) peralatan pendukung lainnya sesuai situasi/kondisi, antara lain gerobak dan tangki air 20 atau 10 liter.

4.2.5.3 Kran Umum (KU)

Pelayanan Faucet Umum (PU) meliputi pekerjaan plumbing dan pemasangan meter air beserta konstruksi sipil yang dibutuhkan sesuai gambar proyek. KU menggunakan pipa servis dengan diameter ¾”–1” dan alat pengukur air dengan ukuran ¾”. Dasar perhitungan konsumsi air KU adalah 60 L/orang/hari.

Panjang pipa dinas ke meter air disesuaikan dengan keadaan di lapangan/pengguna. Struktur konstruktif pada pemasangan sambungan dinas merupakan pekerjaan sederhana yang meliputi pembuatan ambang beton, meter air, pemasangan safety box dan tiang penyangga hidrometer. lembaran logam dengan kunci terkait, pekerjaan pemasangan, plesteran dan lain-lain sesuai dengan gambar.

Pemasangan UC dilakukan sesuai dengan rencana dengan ketentuan sebagai berikut: a) lokasi pemasangan UC harus mendapat persetujuan dari pemilik tanah; Parit untuk air bekas harus dibuat sampai mencapai selokan/selokan

adac terdekat. KU dilengkapi dengan pengukur air berdiameter ¾".

4.2.5.4 Terminal udara

Terminal udara (TA) mencakup pekerjaan tangki dan struktur bangunan yang diperlukan, seperti tangki untuk pekerjaan HU, tetapi tidak dilengkapi dengan sistem perpipaan. Tangki diisi secara berkala menggunakan mobil tangki yang disediakan oleh operator SPAM.

Kriteria desain terminal air adalah sebagai berikut: a. AT dengan volume 3-4 m3 melayani + 200 orang atau 40 KK (1 KK = 5 orang) b. Jumlah AT yang dibutuhkan di area layanan ditentukan berdasarkan

parameter berikut: - jumlah orang yang akan dilayani - kapasitas tadah atau tadah yang mensuplai air dan frekuensinya

transportasi.c. Wadah TA dapat dibuat dari plastik yang diperkuat serat kaca (FRP), polietilen

(PE), batu bata, kayu besi (tahan air), plastik atau bahan tahan air food grade lainnya sesuai dengan kondisi setempat.

D. Tinggi minimum dari TA ke permukaan tanah adalah 60 cm e. Ketebalan dinding tangki TA yang terbuat dari bahan FRP untuk volume 3 m3 adalah 5 mm dan untuk

volume 4 m3 dan 6 mm.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (37)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 32 de 38

F. Kekuatan struktur dapat menahan beban air dan peralatan TA sesuai dengan SNI 03-1729-2002 dan SNI 03-2847-1992.

Tn. Integritas TA seperti yang ditunjukkan pada tabel 8.h. Bentuk TA bisa berbentuk silinder atau mengikuti bentuk dan spesifikasi hydrant

Secara umum.

Tabel 8 Kelengkapan TA

TIDAK. Ukuran Ukuran 1. Periksa poros dan gandar (mm) 6003. Æ pipa pembuangan (mm) 194. Æ pipa ventilasi (mm) 195. Æ pipa pembuangan (mm) 196. Æ pipa pelepasan (mm) 197 Blok katup ( mm) 19

Catatan: Jumlah tabung penguras untuk TA adalah 3 buah

4.2.5.5 Hidran

Hidran kebakaran adalah hidran atau saluran pembuangan yang dimaksudkan untuk mengambil air dari pipa air minum untuk tujuan pemadaman kebakaran atau pipa pembuangan. Sebagai aturan, hidran kebakaran ditempatkan dengan jarak 300 m, atau tergantung pada kondisi ruang/penggunaan dan kepadatan konstruksi.

Tergantung dari jenisnya terbagi menjadi 2 yaitu : a) Pipa basah, memiliki katup kerja pada ujung air yang keluar dari katup api. DI DALAM

pada saat hydrant jenis ini tidak digunakan, hydrant selalu diisi dengan air.b. Tabung kering, memiliki katup kerja yang terpisah dari hidran. Dengan menutup katup ini

sehingga saat tidak digunakan, fire hydrant ini tidak berisi air.

Secara umum, fire hydrant terdiri dari empat bagian utama, yaitu: a. bagian yang menghubungkan manifold dengan hydrant, b. badan hidran kebakaran, c. kepala hidran D. katup hidran.

Penataan hidran harus sesuai dengan SNI 03-6382-2000.

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (38)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 33 de 38

Lampiran A (Informatif)

Contoh gambar kerja IPA

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

PIPAø400

RD

AIN

Ø15

RD

AIN

Ø10

RD

AIN

Ø10

Tiriskan Ø100

2 3 4 5

DUKUNGAN 1 TABUNG

TABUNG DEFINISI

TABUNG DEFINISI

TABUNG DEFINISI

FILTER 4

FILTER 3

FILTER 2

FILTER 1

F1

F3F6

F2

F5F4

PIPA OUTLET Ø200

PIPA ULAZØ200

RD

AIN

Ø15

DRENO Ø150KE SDB

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

PIPAø400

RD

AIN

Ø15

RD

AIN

Ø10

RD

AIN

Ø10

Tiriskan Ø100

TABUNG DEFINISI

TABUNG DEFINISI

TABUNG DEFINISI

TABUNG DEFINISI

FILTER 4

SELOKAN

FILTER 3

FILTER 2

FILTER 1

F7

F9F12

F8

F11F10

PIPA OUTLET Ø200

PIPA ULAZØ200

RD

AIN

Ø15

0ODVOD Ø150KE SDB

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

SELOKAN

6

Gambar A.1 – Tata Letak IPA

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (39)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 34 de 38

Gambar A-2 – Tampilan atas IPA

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (40)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 35 de 38

PIPA OUTLET Ø200

+0,00

PIPA Ø 300

PENGENDAPAN

+0,00

+2,35

PIPA Ø 300

SHAHT

+4,15

SELOKAN

PIP

IKLAN

RA

Anda

100

PIPAø400

PIP

IKLAN

RA

Anda

100

PIPA DRAIN Ø 150

PIP

UNTUK MASUKAN

UNTUK MENINGGALKAN

Ø 2

00

+4,15

133

DOP

TABUNG DEFINISI

+3,80

+3,50

+3,20

+1,80

Ø 300

STANG ZAS LUN

PAGAR

+2,80+2,75

+1,90+1,80

+2,00

+1,55

+2,80

ZASLUNO 150

SELOKAN

PENGUKURAN UTANG

PIPA Ø 200

PORTA

BAKPRASEDIMENTOS LANGSUNG

ZASLUN Ø 200

KOTAK VENTILASI 80X80

BUKA 50X80

DRAINASE

F2 F1

TEKANAN

Gambar A.3 - Bagian 1

+4,15

+0.00 DRAINASE

HANDRAIL STANG ZASLUN

+1,90

+1,55

Talang + 1,80

+4,15

KErikil Ø 1,2-5 MM KErikil Ø 5-12 MM KErikil Ø 12-25 MM KErikil Ø 25-35 MM

DRAINASE

STANG ZAS LUN

+1,90

+1,55

Talang + 1,80

PASIR SILIKA Ø 0.8 MM

+1,90

Gambar A.4 - Bagian 2

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (41)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 36 de 38

ZASLUN Ø150

ZASLUN Ø150

+4,15

+3,55

PAGAR

PAGAR

+0,00

+2,80

+0,00

PIPA ULAZØ200

PIPA ULAZØ200

Gambar A.5 - Bagian 3

SELOKAN

ZASLUN Ø150

PIPA Ø 300

PIPA PEMBUANGAN Ø150

TABUNG DEFINISI TABUNG DEFINISI

PIPA Ø 300

+4,15

+3,85

+3,20

+3,55

+1,80

+1,00

+0,00

PIPA PEMBUANGAN Ø150

PS BATAPS BATA

DOA

ZASLUN Ø150

PIPA Ø 300

PIPA PEMBUANGAN Ø150

PEMECAH PIPA PEMECAH PIPA

PIPA Ø 300

+4,15

+3,85

+3,20

+3,55

+1,80

+1,00

+0,00

PIPA PEMBUANGAN Ø150

PS BATA PS BATA

SELOKAN

PAGAR

PAGAR

+0,00

Gambar A.6 – Bagian 4

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (42)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 37 de 38

F1F6F5

+4,15

PD

RAI

N

100

UNTUK REDUCER Ø400x400 Ø400x300

BENDEK Ø 300 x 90°

PD

RAI

N

100

F7 F12 F11

PD

RAI

N

100

UNTUK REDUCER Ø400x400 Ø400x300

SENDIRI Ø 300 x 90°P.

RD

AIN

Ø10

PUSH BLOK

DRAINASE

PUSH BLOK

DRAINASE

PIPA ULAZØ200

120

TEKANAN

PIPA ULAZØ200

TEKANAN

120

Gambar A.7 – Bagian 5

F1F6F5

+4,15

PD

RAI

N

100

PD

RAI

N

100

F7 F12 F11

PD

RAI

N

100

PD

RAI

N

100

PUSH BLOK

DRAINASE

PUSH BLOK

DRAINASE

PD

RAI

N

100

PD

RAI

N

100

PUSH BLOK PUSH BLOK

PIPA ULAZØ200

PIPA ULAZØ200

Gambar A.8 - Bagian 6

(PDF) Standar Nasional Indonesia - sni.litbang.pu.go.idsni.litbang.pu.go.id/image/sni/isi/sni-78312012.pdf · SNI 03-1729-2002, Tata Cara Perancangan Struktur Baja untuk bangunan - DOKUMEN. (43)

SNI 7831:2012

© BSN 2012 38 de 38

Bibliografi

UU no. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum n.º 18/PRT/M/2007 tentang Pelaksanaan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

Pengukuran debit air (aliran), Nurhasanah Sutjahyo, MM.

AB K/RE-RT/ST/005/98 : Spesifikasi Teknis Pipa dan Alat Ukur Sistem Penyediaan Air Minum

AB K/OP/MU/013/98: Metode pengujian untuk mengukur debit pompa

References

Top Articles
Latest Posts
Article information

Author: Patricia Veum II

Last Updated: 07/04/2023

Views: 6558

Rating: 4.3 / 5 (64 voted)

Reviews: 95% of readers found this page helpful

Author information

Name: Patricia Veum II

Birthday: 1994-12-16

Address: 2064 Little Summit, Goldieton, MS 97651-0862

Phone: +6873952696715

Job: Principal Officer

Hobby: Rafting, Cabaret, Candle making, Jigsaw puzzles, Inline skating, Magic, Graffiti

Introduction: My name is Patricia Veum II, I am a vast, combative, smiling, famous, inexpensive, zealous, sparkling person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.